Menyenangi Aktivitas Mandi itu Luar Biasa!

Rasanya sih mandi tidak memberikan trauma tertentu. Tapi, kita tau pasti, dengan kita mandi: siap beraktivitas hari itu dengan lebih segar. Makanya, bisa jadi, malasnya kita mandi adalah tanda, jangan-jangan kita ga siap hadapi hari? Juga, menjadi masuk akal ketika didapati seseorang sudah tidak mandi berhari-hari, maka gejala depresi nampaknya berpeluang besar.

Aku, adalah satu orang yang pernah merasakan beratnya mandi. Didukung dengan kulit badan yang cukup badak (baca: tidak sensitif), jadi pembenaran untuk terus melanjutkan tidur kembali. Lihat, situasi ini sudah sangat jelas pada masa itu aku sudah nampak stres bukan?

Tapi, postingan ini bukan membahas sisi ilmiah dari pentingnya mandi. Aku mendedikasikan postingan ini sebagai wujud terimakasihku pada soulmate a.k.a. suami yang mendampingi pada fase males mandi (baca: gejala depresi) itu menjadi sekarang yang melihat mandi menjadi aktivitas menyegarkan! Belum lagi dilanjutkan paska-mandi yang ga kalah menghabiskan waktu: untuk skincare-an dan bengong dan kejar ibadah ritual, ahh, betapa nikmatnyaa~

Kalau suatu saat nanti, ku dapati fase hidup kembali menantang, maka ingatlah:

“Endah, kamu pernah ada pada posisi itu dengan sekelumit khawatir dan lelah yang rasanya tanpa ujung, dan Allah dengan mudahnya mencabut semua itu. Menjadikan segalanya menjadi lebih ringan. Maka, bersandarlah pada Allah, serahkan urusan dunia padaNya, dan lakukan porsimu sebagaimana seorang manusia. Semuanya akan ada ujungnya”

Pernah dapat nasihat, salah satu bagian dari bersyukur adalah dengan menyimpan perbendaharaan kebahagiaan yang harapannya ketika dirasa hidup begitu berat, bukalah memori kebahagiaan itu untuk mengingat: betapa Allah sangat menyanyangi kita. Kita hanya perlu berjuang sedikit lagi saja.

Tentu saja, bagian dari syukur, Allah menjadikan suami sekaligus qawwam sebagai pasangan bertumbuh. Semoga Allah jaga langkah suami meniti satu amanah-ke-amanah lainnya, karena, masyaAllah peran pemimpin keluarga seberat itu 😆

Semoga aku bisa menjadi bagian yang meringankan perjuangan itu ya, sayang♥️

Memaknai Peran “Ibu Baru” Setiap Harinya

Alhamdulillah, per Maret 2026 kemarin, Neng Sora Shalihah (sebutanku pada Sang Bayi yang punya nama panjang “Ghaytsa Misora Muthmainnah Jahida) berumur 2 tahun. Tingkahnya semakin menggemaskan, terutama ketika mendapati tabiatnya banyak yang ajaib. Saking begitu tidak terduga sekaligus terasa familiar, kok mirip aku dan aku relate dong(?)🤣

Yang tidak kalah menarik, sebetulnya bagaimana aku memaknai diri sebagai Bundanya Sora. Ketika didapati semakin dekat milestone untuk persiapkan sekolah anak, menjadikan refleksi kembali: Kamu mau membangun pasukan kebaikan seperti apa sih?

Dari sekian banyak pilihan yang baik, tentu perlu ditimbang mana yang paling tepat dengan kondisi bahtera rumah tangga ini. Preferensi orang tua Sora yang ga lepas dari kemampuan finansial ini, pun ga menutup pengaruh dari pengalaman belajar sedari kecil hingga sekarang. Mencari irisan dari berbagai keinginan dan harapan dibenturkan dengan realita membuat semakin paham, “Oh, ini toh yang dipusingkan orang tua ketika mendidik anak masalah sekolah”. Ternyata sampai juga pada titik ini yaa~

Sejauh ini pendidikan Sora cenderung ku pilih pada:

  1. Kesadaran penuh pendidikan utama harus dari orang tua. Guru atau pengajar di luar sama bersifat supporting atau membantu orang tua mencapai tujuan pendidikan kami. Yang artinya: ya kalau ga nemu guru atau sekolah yang cocok, siap-siaplah orang tua turun tangan karena kita lah penanggung jawab pengajar itu. Bukan malah demanding tinggi ke pengajar (apalagi dengan insentif yang ga seberapa, halaahh~)
  2. Usia dini hingga SD, rasanya pengen membawa Sora pada perjalanan belajar yang chill aja gitu, tapi tetap punya target belajar. Pengalaman kecilku dulu yang untuk TK saja sudah harus siap jam 5.30 pagi untuk diantar jemputan, lalu aktivitas seharian, yaAllah rasanya cape banget ya. Segitu sebetulnya aku TK di Salman Al-Farisi yang punya jadwal tidur siang, tapi ya, tetep kerasanya capek. Lebih karena menghadapi tiap pagi bangun nyubuh untuk dar-der-dor keranan waktu sih sepertinya yaa. Tentu saja aku meyakini habituasi kebaikan itu penting ya. Hanya saja gambaran aktivitas pagi bayi: bangun tetap dibiasakan pagi, syukur alhamdulillah terbiasa pas waktu tahajud. Menyaksikan orang tuanya aktivitas pagi ku yakini jadi bagian pendidikan akan pentingnya waktu subuh. Nah, selepas bangun, bisa berinteraksi Quran dulu dan bengong atau diskusi tipis-tipis, sambil bersiap untuk olahraga pagi. Setelah itu, sekitar jam 7 pagi, baru lanjut aktivitas harian: sarapan, mandi, belajar, aktivitas berat, dst.. Jadi pagi hari tetap beraktivitas, tapi tidak dar-der-dor kejaran waktu. Cukuplah subuh (dan ibadah ritual lain) jadi target utama setelah bangun.
  3. Punya keinginan untuk home-schooling, terutama selama masa SD Neng Sora nanti. Jujur, menulis keinginan dan target ini sambil membayang Ayahnya Sora dengan tatapan tak percaya: Apa iyahh kamu sanggup mau bawa Sora ikut program Home-schooling? Dan ini ku sadari bukan bentuk aku diremehkan suami ya, alasan doi cukup rasional: gue kerja, perjalanan 2 tahun membersamai Sora tak nampak keteguhan untuk mendampingi pengajaran terstruktur, juga ayahnya pun nampaknya menyadari belum memiliki kesabaran yang besar. Tapi, kembali menimbang pengalaman belajar diri ini ketika SD sampai SMA yang rasanya banyak banget dipelajari tapi kok ga berbekas, rasanya perlu ditimbang matang apakah sekolah formal adalah tepat ya. Pun mengetahui fakta, “Bisa kok dikejar dengan les tambahan aja selepas sekolah!”, kataku sebagai alumni les-les-an sedari TK hingga pra-kuliah (manteup ga tuh wkwk), nyatanya fakta lain: “Energi anak sudah habis di sekolah dan menyisakan sisanya untuk les-an” rasanya menyedihkan sekali. Ah, deskripsi kata sifat “sedih” nampaknya mengherankan ya, banyak scene untuk diulas kapan waktu di postingan lain ya. Dan perkara tambahan les ini—lagi-lagi—belum bahas tambahan pengeluaran lagi. Jadi, kenapa tidak sejak awal saja ditentukan apa fokus belajar SD dan mengejar mata kuliah wajin dengan les-an? Membayangkam cost pengeluaran bisa berkurang atau setidaknya bisa dialokasikan untuk keperluan personal dan yang pasti energi yang dikeluarkan oleh anak lebih minimalis.
  4. Masih membahas perkara home-schooling, tapi lebih konteks dari sisi orang tua, dari sisi aku terutama. Benar adanya orang tua akan jadi “nambah kerjaan”. Ini yang aku sadari dan pahami banyak orang tua memilih sekolah formal, walaupun semahal itu biayanya, adalah karena dibantunya mereka dari sisi pengajaran. Lalu apa yang menguatkan ku untuk tetap ambil cara tersulit? Ya, jelas, karena—kalau ada yang susah, kenapa harus ambil yang mudah? bercanda sayang 😆—dalam waktu dekat, target 1-2 tahun ke depan Bundanya Sora ini berencana lanjut studi di luar negeri. Menyiapkan mental sedini mungkin untuk berkapasitas “mandiri” membersamai Sora jadi salah satu check-list aku mampu bawa Sora juga. Privilege lain pilihan ini adalah membangun komunikasi intens dengan anak dan bisa menurunkan nilai yang aku yakini secara berangsur-angsur juga. Pastinya, yang ditangkap Sora tidak hanya saat aku “perform”, namun ketika aku sedang dalam kondisi prima, pun, jadi bagian pembelajaran bagaimana aku meregulasinya. Hanya pada Allah aku memohon untuk Neng Sora bisa menyerap segala hikmah kebaikan dari apa-apa yang hadir dari diri ini deh 🥲

Postingan ini aku tulis saat libur perkuliahan mahasiswa, yang tentunya bukan hari libur bagi dosen ya. Sangat mungkin preferensi ini berubah seiring kondisi atau desakan, tapi mari kita jewantahkan menjadi tulisan yang bisa dimaknai ulang kemudian hari.

Peran menjadi bunda tidaklah mudah, kita tau pasti punya anak sebenernya menambah masalah juga wkwkw. Tapi, bukankah esensi hidup itu menghadapi dan mengarungi satu masalah ke masalah lain untuk ditanggapi dan diselesaikan? Jadi, ya, peran bunda adalah masalah yang diusahakan hadir untuk portofolio keHambaanku pada Allah, sebagaimana berkeluarga itu untuk melanjutkan keturunan. Moga-moga sekeluarga tidak hanya masuk surga, tapi tidak mampir sama sekali ke neraka. Aamiin allahumma aamiin✨

Dimulai dengan mindset: “Aku adalah ibu baru” ternyata cukup membuat mental diri lebih kiat untuk hadapi hari. Karena, kalau toh aku salah, ya aku akan usahakan kembali besok dan aku memaklumi: kan aku ibu baru 2 tahun untuk Sora. Nantipun Allah beri rezeki membersamai hidup Sora hingga ke pelaminan, ” Ya aku kan ibu baru yang pertama kali menikahkan anak”. Jadi, setiap hari adalah hari baru dalam peran ibu ini.

Semangat ibu sedunia!

#TDL: Patform pangkas administrasi kerja dosen

Setidaknya terhitung Juni 2026 kemarin sudah masuk setahun “magang” jadi dosen tetap. Kerjaan memang banyak, ya setidaknya melihat kolega sekitar, udah ga usah ditanya. Menariknya, padahal segitu belum diberi beban kerja full sebagaimana karyawan penuh, itu aja rasanya udah capek banget wkwkwk.

Bukan hal baru, dan memang benar adanya dan sangat worth-to-solved kalau bisa pangkas administrasi. Kita ga bahas administrasi formal (aja), bahkan, dari sisi “coaching” dan “fasilitator” mendampingi mahasiswa aja udah takes time banget. Dimulai dari: review partisipasi pembelajaran (apalagi kalau menjadi ukuran penilaian sumatif atau nilai akhir perkuliahan), reminder atau buka kesepakatan janji temu, dokumentasi pembelajaran itu sendiri yang nantinya, idealnya, jadi dasar perbaikan pada pembelajaran berikutnya.

Membayangkan menjalani tahun kedua dengan “senjata” tempur yang sama, rasa-rasanya seperti tidak memetik hikmah sama sekali ya. Jadi, kenapa tidak kita buat #TDL adalah kepanjangan dari “hastag-to-do-list” yang menuangkan ide masalah untuk didokumentasikan secara runut, setidaknya teratur dari perspektif gue, jadi kualitas sistematisnya tentu sangat bergantung pada kualitas load pikiran dan kemampuan otot mental yang ku miliki saat ini😎. Setidak-tidaknya, ketika membaca kembali postingan ini, jadi keinget bahwa otak ini pernah sedemikian seriusnya untuk mencoba mengurai masalah. Syukur-syukur Allah beri kesempatan menyelesaikannya, atau senggaknya, kita jadikan data pasar aja ga sih? Kali aja ada yang menyambut(?) #asik. Kalau betul ada yang bisa bantu, kredit “terimakasih” mungkin bukan rezeki kita, tapi Alhamdulillah satu masalah sudah solved dan kita bisa “cari masalah” lainnya #eaaa

Kalau mau lempar “kesalahan”, yaa paling enak kasih komplain pada pemilik instansi yang membebankan tugas. Setidaknya akan keluar kalimat,

“Kenapa sih kalian ga buat barengan aja laman platformnya, jadi gausah buat banyak dan jadi berkali-kali kerjanya?”

yang sebenernya, kalau kita coba renungkan lagi dengan kacamata mindset ‘yang penting beres dulu aja’, maka betul lebih do-able dan manageable memfokuskan satu platform untuk satu task terpisah. Well, lebih baik ada daripada tidak sama sekali, bukan?

Tentunya, postingan ini bukan membenarkan cara pikir itu pada konteks pelaporan ini ya. Tapi, pertanyaan menariknya:

“Apakah memang solusi hanya bisa hadir dari pemangku kebijakan atau penyelenggara/ pihak berwewenang?”

Ternyata engga gaes, contoh nyata: mengenang bagaimana gue bisa masuk kerja Juni 2025. Untuk konteks, aku ditetapkan mengisi formasi dosen tetap CPNS sekitar akhir Januari 2025. Hingga lebaran selesai, berarti setelah bulan Maret, pun masih simpang-siur kapan masuk hingga keluar pernyataan pada bulan Mei 2025 bahwa penerima kerja akan mulai kerja tahun 2026, yang masih belum jelas juga detailnya. Lalu, penolakan dan desakan masyarakat, notabene-nya bukan pihak berwenang dan pemangku kebijakan, bisa mendorong keputusan penerima pegawai yang lulus tes CPNS 2024 akan mulai kerja pada Bulan Juni 2025. Tidak perlu membahas betapa chaos-nya saat itu, tapi ternyata solusi bisa hadir dari berbagai pihak kan?

Kembali pada permasalahan beban administrasi yang berat dan banyak, kita bisa lakukan:

  1. Optimasi pengisian administrasi pada laman sister (dibaca: sistem integrasi; laman pelaporan kerja dosen) langsung dengan AI. Setidaknya proven bisa dibantu dengan claude cowork. Pernah liat konten orang yang dengan prompt tertentu bisa mengerjakan pengisian sister (sayang lupa liat kontennya dimana, itu keren sih! Kalau ketemu nanti aku share deh disini). Hanya saja, token yang dipakai sangat besar banget, yang ujung-ujungnya butuh langganan subscribe yang besar. Tapi setidaknya, ternyata do-able untuk dibantu
  2. Platform untuk tracking capaian tugas akhir mahasiswa. Untuk skema tugas akhir dan magang dan punya keluaran berkas laporan, akan punya aktivitas yang sama: bimbingan rutin, mahasiswa yang dituntut untuk terus berprogres dan waktu ke waktu, dokumentasi berkas yang rapi untuk dikembangkan kembali untuk dosen atau adik tingkat selanjutnya yang akan ambil topik yang sama/ butuh contoh gambaran riset. Pain dari sisi dosen: (1) review konten dan kesesuaian format, (2) feedback personal satu-per-satu mahasiswa, (3) janjian untuk temu: WhatsApp perlu fast respon dan kesesuaian waktu, dan (4) pendokumentasian seluruh berkas yang sudah dibuat oleh mahasiwa. Nah, kenapa tidak pain (1) dan (2) ditakis langsung dengan bantuan AI, dengan input yang tepat, rasanya sangat memungkinkan ya. Untuk pain (2) sebetulnya membayangkan mahasiwa sambil menunggu feedback langsung dari dosen, bisa dapat feedback dari AI (dengan input yang sudah disetting dosen) sehingga jeda tunggu selama dosen membaca berkas bisa digunakan untuk menaggapi “usulan perbaikan” dari AI. Feedback itu akan terekam pada platform, juga terkirim otomatis ke WhatsApp juga. Tinggal pain (3) yang tetap perlu update dari dosen memberikan usulan waktu, nantinya untuk pengisian mahsiswa mengisi waktu usulan yang diatur oleh AI. Nah, untuk pain (4), terbayangnya kalau mau rapi, kita akan buatkan tiap mahasiswa folder nama dan didalamnya keterangan waktu tiap pekannya untuk diisi. Alangkah dimudahkannya pekerjaan administrasi ini dilakukan oleh AI.
  3. Pengen kontak baru pada WhatsApp itu auto-save dengan standar penulisan yang diinginkan. Untuk memberikan konteks, aku kalau memberi nama itu “Nama panggilan_Nama panjang_Afiliasi/ kenal pertama pada momentum apa”. Jadi, selama ini kalau manual, memang menghabiskan waktu sekali!
  4. Pemberian tanda tangan lebih ringkas dan ada watermark/ sign pada tanda-tangan. Kebayang ada barcode di pojok kanan tanda tangan untuk menunjukkan keaslian dari ttd itu, keren banget!

Wah, membayangkan keempat pekerjaan ini suatu hari nanti bisa dibantu oleh AI rasanya menyenangkan sekali! Sejauh ini, memang Claude yang secara logika bisa dikejar, walaupun tetap perlu otak manusia untuk mengarahkannya ya!

Kemarin aku sempat (atau menyempatkan walaupun chaos dan ga se-perform itu juga) ikutan bootcamp Claude dari BelajarLagiHQ. Selepasnya, ada komunitas yang adminnya itu concern atau punya ketertarikan untuk membahas per-AI dan digital markeitng gitu.

Untuk optimasi WhatsApp, nampaknya bisa pakai ini: https://katawhatsapp.com/ , dimana kenalan admin (thanks Kak Phyar, Teaching Assistant ku yang ngenalin komunitas itu🥹) bikin WA Gateway yang bisa dipake pribadi/bot buat blasting pesan gratis. Sangat menarikkk!

Detailnya:

Paket Gratis:

  • Starter — 1.000 pesan/hari, 1 device, akses API
  • Business — 10.000 pesan/hari, 5 device
  • Enterprise — custom (unlimited)

Cara kerja: standar kayak WA Gateway pada umumnya. Lo daftar, scan QR code pake WhatsApp lo (mirip WA Web), terus bisa kirim pesan via REST API. Contoh endpoint-nya:

curl -X POST https://api.katawhatsapp.com/sessions//send
-H “Authorization: Bearer YOUR_TOKEN”
-H “Content-Type: application/json”
-d ‘{“to”:”628xxxxxxxx”,”text”:”Halo!”}’

Kelebihan yang keliatan:

  • Gratis beneran (gak cuma trial), kuota 1rb-10rb/hari cukup lumayan buat notifikasi atau blast skala kecil-sedang
  • Udah include OTP, auto-reply, scheduled campaign
  • Dashboard + real-time report
  • Dokumentasi API jelas

Catatan penting:

  • Tetep pake infrastruktur pihak ketiga — kirim pesan lewat server mereka, konek ke WhatsApp lo via koneksi mereka
  • Masalah kayak kena spam/limit/banned dari WhatsApp tergantung pemakaian, kayak gateway lain juga
  • Gratisan berarti produk masih mungkin berubah, jangka panjang belum jelas

Tapi buat yang butuh kirim notifikasi/OTM/blast tanpa keluar duit — worth to try lah. Lumayan daripada bayar bulanan. Walaupun, tetap ada beberapa yang diperhatikan akan peluang resiko:

  1. Koneksi WhatsApp lo di-host di server mereka — ini beda sama WA Web yang koneksinya di browser lo. Koneksi WA lo (session file) ada di server mereka. Secara teknis mereka bisa akses semua chat yg masuk/keluar dari nomor itu selama sesi aktif.
  2. Login cuma pake QR code — mirip WA Web. Ga ada 2FA tambahan dari sisi gateway. Begitu discan, device lo “nempel” di server mereka.
  3. Data melewati infrastruktur mereka — semua pesan (termasuk OTP, data pelanggan, dll.) lewat server mereka. Lo percaya mereka ga log?
  4. Gratisan = lo produknya — kalo ga bayar, lo harus curiga: mereka dapet duit dari mana? Bisa dari upsell, atau… ya data.
  5. No guarantee kalo mereka bobol — startup gratis begini biasanya ga punya sertifikasi keamanan (ISO 27001, SOC 2, dll.)

Nah, saran dari sesama member di grup komunitas itu menyikapi platform WA blast ini:

  • Buat notifikasi internal / testing — mungkin oke, toh pesannya ga sensitif
  • Buat OTP / transaksi pelanggan — gue personally ga akan percayain ke gateway gratis. Mending pake provider established kayak Twilio, Vonage, atau WATI yang berbayar tapi jelas reputasi dan compliance-nya
  • Kalo lo emang butuh gateway sendiri, setup WACloud atau Baileys di server lo sendiri — kontrol penuh, ga numpang di server orang
  • Intinya: gratis itu selalu ada kompromi. Kalo bisnis lo udah pegang data pelanggan, mending bayar dikit demi keamanan daripada repot gara-gara data bocor. Jadinya, dikembalikan ke tujuan dari penggunaan plaform WA blast ini sih.

Okey, baru platform WA blast ini aja yang menarik. Wah, jujur agak mindblowing sekaligus overwhelmed juga ya melihat konten ini jadi tipis-tipis tutorial wkwkwk. Tapi gapapa lah, itung-itung seperti catatan belajar juga ya.

Semoga Allah bantu dan kuatkan peran menjadi dosen ini!

Sampai jumpa konten #TDL selanjutnya~

Investasi itu bernama waktu

Viola, hadirnya blogging ini cukup spontan, menimbang rencana mengaktifkan media sosial pribadi dan publikasi untuk menguatkan peran dan amanah yang ada.

Sebelumnya ku menggunakan weebly, lalu merasa perlu lebih diseriusi dan diputuskan buat laman baru.

Yang jauh lebih penting, perlu wadah share isi pikiran yang lebih personal. Jangka panjangnya bisa share di academia dan substack. Ah iya, semalam memang sempat sulit tidur karena banyak pengen menulis (juga hidung tersumbat sih wkwkw).

See you on my Point of View😁

p.s. Aku lagi bangun Wattpad juga loh!

*Wow ternyata aku betul-betul banyak yang belum diselesaikan ya wkwkw