Memaknai Peran “Ibu Baru” Setiap Harinya

Alhamdulillah, per Maret 2026 kemarin, Neng Sora Shalihah (sebutanku pada Sang Bayi yang punya nama panjang “Ghaytsa Misora Muthmainnah Jahida) berumur 2 tahun. Tingkahnya semakin menggemaskan, terutama ketika mendapati tabiatnya banyak yang ajaib. Saking begitu tidak terduga sekaligus terasa familiar, kok mirip aku dan aku relate dong(?)🤣

Yang tidak kalah menarik, sebetulnya bagaimana aku memaknai diri sebagai Bundanya Sora. Ketika didapati semakin dekat milestone untuk persiapkan sekolah anak, menjadikan refleksi kembali: Kamu mau membangun pasukan kebaikan seperti apa sih?

Dari sekian banyak pilihan yang baik, tentu perlu ditimbang mana yang paling tepat dengan kondisi bahtera rumah tangga ini. Preferensi orang tua Sora yang ga lepas dari kemampuan finansial ini, pun ga menutup pengaruh dari pengalaman belajar sedari kecil hingga sekarang. Mencari irisan dari berbagai keinginan dan harapan dibenturkan dengan realita membuat semakin paham, “Oh, ini toh yang dipusingkan orang tua ketika mendidik anak masalah sekolah”. Ternyata sampai juga pada titik ini yaa~

Sejauh ini pendidikan Sora cenderung ku pilih pada:

  1. Kesadaran penuh pendidikan utama harus dari orang tua. Guru atau pengajar di luar sama bersifat supporting atau membantu orang tua mencapai tujuan pendidikan kami. Yang artinya: ya kalau ga nemu guru atau sekolah yang cocok, siap-siaplah orang tua turun tangan karena kita lah penanggung jawab pengajar itu. Bukan malah demanding tinggi ke pengajar (apalagi dengan insentif yang ga seberapa, halaahh~)
  2. Usia dini hingga SD, rasanya pengen membawa Sora pada perjalanan belajar yang chill aja gitu, tapi tetap punya target belajar. Pengalaman kecilku dulu yang untuk TK saja sudah harus siap jam 5.30 pagi untuk diantar jemputan, lalu aktivitas seharian, yaAllah rasanya cape banget ya. Segitu sebetulnya aku TK di Salman Al-Farisi yang punya jadwal tidur siang, tapi ya, tetep kerasanya capek. Lebih karena menghadapi tiap pagi bangun nyubuh untuk dar-der-dor keranan waktu sih sepertinya yaa. Tentu saja aku meyakini habituasi kebaikan itu penting ya. Hanya saja gambaran aktivitas pagi bayi: bangun tetap dibiasakan pagi, syukur alhamdulillah terbiasa pas waktu tahajud. Menyaksikan orang tuanya aktivitas pagi ku yakini jadi bagian pendidikan akan pentingnya waktu subuh. Nah, selepas bangun, bisa berinteraksi Quran dulu dan bengong atau diskusi tipis-tipis, sambil bersiap untuk olahraga pagi. Setelah itu, sekitar jam 7 pagi, baru lanjut aktivitas harian: sarapan, mandi, belajar, aktivitas berat, dst.. Jadi pagi hari tetap beraktivitas, tapi tidak dar-der-dor kejaran waktu. Cukuplah subuh (dan ibadah ritual lain) jadi target utama setelah bangun.
  3. Punya keinginan untuk home-schooling, terutama selama masa SD Neng Sora nanti. Jujur, menulis keinginan dan target ini sambil membayang Ayahnya Sora dengan tatapan tak percaya: Apa iyahh kamu sanggup mau bawa Sora ikut program Home-schooling? Dan ini ku sadari bukan bentuk aku diremehkan suami ya, alasan doi cukup rasional: gue kerja, perjalanan 2 tahun membersamai Sora tak nampak keteguhan untuk mendampingi pengajaran terstruktur, juga ayahnya pun nampaknya menyadari belum memiliki kesabaran yang besar. Tapi, kembali menimbang pengalaman belajar diri ini ketika SD sampai SMA yang rasanya banyak banget dipelajari tapi kok ga berbekas, rasanya perlu ditimbang matang apakah sekolah formal adalah tepat ya. Pun mengetahui fakta, “Bisa kok dikejar dengan les tambahan aja selepas sekolah!”, kataku sebagai alumni les-les-an sedari TK hingga pra-kuliah (manteup ga tuh wkwk), nyatanya fakta lain: “Energi anak sudah habis di sekolah dan menyisakan sisanya untuk les-an” rasanya menyedihkan sekali. Ah, deskripsi kata sifat “sedih” nampaknya mengherankan ya, banyak scene untuk diulas kapan waktu di postingan lain ya. Dan perkara tambahan les ini—lagi-lagi—belum bahas tambahan pengeluaran lagi. Jadi, kenapa tidak sejak awal saja ditentukan apa fokus belajar SD dan mengejar mata kuliah wajin dengan les-an? Membayangkam cost pengeluaran bisa berkurang atau setidaknya bisa dialokasikan untuk keperluan personal dan yang pasti energi yang dikeluarkan oleh anak lebih minimalis.
  4. Masih membahas perkara home-schooling, tapi lebih konteks dari sisi orang tua, dari sisi aku terutama. Benar adanya orang tua akan jadi “nambah kerjaan”. Ini yang aku sadari dan pahami banyak orang tua memilih sekolah formal, walaupun semahal itu biayanya, adalah karena dibantunya mereka dari sisi pengajaran. Lalu apa yang menguatkan ku untuk tetap ambil cara tersulit? Ya, jelas, karena—kalau ada yang susah, kenapa harus ambil yang mudah? bercanda sayang 😆—dalam waktu dekat, target 1-2 tahun ke depan Bundanya Sora ini berencana lanjut studi di luar negeri. Menyiapkan mental sedini mungkin untuk berkapasitas “mandiri” membersamai Sora jadi salah satu check-list aku mampu bawa Sora juga. Privilege lain pilihan ini adalah membangun komunikasi intens dengan anak dan bisa menurunkan nilai yang aku yakini secara berangsur-angsur juga. Pastinya, yang ditangkap Sora tidak hanya saat aku “perform”, namun ketika aku sedang dalam kondisi prima, pun, jadi bagian pembelajaran bagaimana aku meregulasinya. Hanya pada Allah aku memohon untuk Neng Sora bisa menyerap segala hikmah kebaikan dari apa-apa yang hadir dari diri ini deh 🥲

Postingan ini aku tulis saat libur perkuliahan mahasiswa, yang tentunya bukan hari libur bagi dosen ya. Sangat mungkin preferensi ini berubah seiring kondisi atau desakan, tapi mari kita jewantahkan menjadi tulisan yang bisa dimaknai ulang kemudian hari.

Peran menjadi bunda tidaklah mudah, kita tau pasti punya anak sebenernya menambah masalah juga wkwkw. Tapi, bukankah esensi hidup itu menghadapi dan mengarungi satu masalah ke masalah lain untuk ditanggapi dan diselesaikan? Jadi, ya, peran bunda adalah masalah yang diusahakan hadir untuk portofolio keHambaanku pada Allah, sebagaimana berkeluarga itu untuk melanjutkan keturunan. Moga-moga sekeluarga tidak hanya masuk surga, tapi tidak mampir sama sekali ke neraka. Aamiin allahumma aamiin✨

Dimulai dengan mindset: “Aku adalah ibu baru” ternyata cukup membuat mental diri lebih kiat untuk hadapi hari. Karena, kalau toh aku salah, ya aku akan usahakan kembali besok dan aku memaklumi: kan aku ibu baru 2 tahun untuk Sora. Nantipun Allah beri rezeki membersamai hidup Sora hingga ke pelaminan, ” Ya aku kan ibu baru yang pertama kali menikahkan anak”. Jadi, setiap hari adalah hari baru dalam peran ibu ini.

Semangat ibu sedunia!