Setidaknya terhitung Juni 2026 kemarin sudah masuk setahun “magang” jadi dosen tetap. Kerjaan memang banyak, ya setidaknya melihat kolega sekitar, udah ga usah ditanya. Menariknya, padahal segitu belum diberi beban kerja full sebagaimana karyawan penuh, itu aja rasanya udah capek banget wkwkwk.
Bukan hal baru, dan memang benar adanya dan sangat worth-to-solved kalau bisa pangkas administrasi. Kita ga bahas administrasi formal (aja), bahkan, dari sisi “coaching” dan “fasilitator” mendampingi mahasiswa aja udah takes time banget. Dimulai dari: review partisipasi pembelajaran (apalagi kalau menjadi ukuran penilaian sumatif atau nilai akhir perkuliahan), reminder atau buka kesepakatan janji temu, dokumentasi pembelajaran itu sendiri yang nantinya, idealnya, jadi dasar perbaikan pada pembelajaran berikutnya.
Membayangkan menjalani tahun kedua dengan “senjata” tempur yang sama, rasa-rasanya seperti tidak memetik hikmah sama sekali ya. Jadi, kenapa tidak kita buat #TDL adalah kepanjangan dari “hastag-to-do-list” yang menuangkan ide masalah untuk didokumentasikan secara runut, setidaknya teratur dari perspektif gue, jadi kualitas sistematisnya tentu sangat bergantung pada kualitas load pikiran dan kemampuan otot mental yang ku miliki saat iniπ. Setidak-tidaknya, ketika membaca kembali postingan ini, jadi keinget bahwa otak ini pernah sedemikian seriusnya untuk mencoba mengurai masalah. Syukur-syukur Allah beri kesempatan menyelesaikannya, atau senggaknya, kita jadikan data pasar aja ga sih? Kali aja ada yang menyambut(?) #asik. Kalau betul ada yang bisa bantu, kredit “terimakasih” mungkin bukan rezeki kita, tapi Alhamdulillah satu masalah sudah solved dan kita bisa “cari masalah” lainnya #eaaa
Kalau mau lempar “kesalahan”, yaa paling enak kasih komplain pada pemilik instansi yang membebankan tugas. Setidaknya akan keluar kalimat,
“Kenapa sih kalian ga buat barengan aja laman platformnya, jadi gausah buat banyak dan jadi berkali-kali kerjanya?”
yang sebenernya, kalau kita coba renungkan lagi dengan kacamata mindset ‘yang penting beres dulu aja’, maka betul lebih do-able dan manageable memfokuskan satu platform untuk satu task terpisah. Well, lebih baik ada daripada tidak sama sekali, bukan?
Tentunya, postingan ini bukan membenarkan cara pikir itu pada konteks pelaporan ini ya. Tapi, pertanyaan menariknya:
“Apakah memang solusi hanya bisa hadir dari pemangku kebijakan atau penyelenggara/ pihak berwewenang?”
Ternyata engga gaes, contoh nyata: mengenang bagaimana gue bisa masuk kerja Juni 2025. Untuk konteks, aku ditetapkan mengisi formasi dosen tetap CPNS sekitar akhir Januari 2025. Hingga lebaran selesai, berarti setelah bulan Maret, pun masih simpang-siur kapan masuk hingga keluar pernyataan pada bulan Mei 2025 bahwa penerima kerja akan mulai kerja tahun 2026, yang masih belum jelas juga detailnya. Lalu, penolakan dan desakan masyarakat, notabene-nya bukan pihak berwenang dan pemangku kebijakan, bisa mendorong keputusan penerima pegawai yang lulus tes CPNS 2024 akan mulai kerja pada Bulan Juni 2025. Tidak perlu membahas betapa chaos-nya saat itu, tapi ternyata solusi bisa hadir dari berbagai pihak kan?
Kembali pada permasalahan beban administrasi yang berat dan banyak, kita bisa lakukan:
- Optimasi pengisian administrasi pada laman sister (dibaca: sistem integrasi; laman pelaporan kerja dosen) langsung dengan AI. Setidaknya proven bisa dibantu dengan claude cowork. Pernah liat konten orang yang dengan prompt tertentu bisa mengerjakan pengisian sister (sayang lupa liat kontennya dimana, itu keren sih! Kalau ketemu nanti aku share deh disini). Hanya saja, token yang dipakai sangat besar banget, yang ujung-ujungnya butuh langganan subscribe yang besar. Tapi setidaknya, ternyata do-able untuk dibantu
- Platform untuk tracking capaian tugas akhir mahasiswa. Untuk skema tugas akhir dan magang dan punya keluaran berkas laporan, akan punya aktivitas yang sama: bimbingan rutin, mahasiswa yang dituntut untuk terus berprogres dan waktu ke waktu, dokumentasi berkas yang rapi untuk dikembangkan kembali untuk dosen atau adik tingkat selanjutnya yang akan ambil topik yang sama/ butuh contoh gambaran riset. Pain dari sisi dosen: (1) review konten dan kesesuaian format, (2) feedback personal satu-per-satu mahasiswa, (3) janjian untuk temu: WhatsApp perlu fast respon dan kesesuaian waktu, dan (4) pendokumentasian seluruh berkas yang sudah dibuat oleh mahasiwa. Nah, kenapa tidak pain (1) dan (2) ditakis langsung dengan bantuan AI, dengan input yang tepat, rasanya sangat memungkinkan ya. Untuk pain (2) sebetulnya membayangkan mahasiwa sambil menunggu feedback langsung dari dosen, bisa dapat feedback dari AI (dengan input yang sudah disetting dosen) sehingga jeda tunggu selama dosen membaca berkas bisa digunakan untuk menaggapi “usulan perbaikan” dari AI. Feedback itu akan terekam pada platform, juga terkirim otomatis ke WhatsApp juga. Tinggal pain (3) yang tetap perlu update dari dosen memberikan usulan waktu, nantinya untuk pengisian mahsiswa mengisi waktu usulan yang diatur oleh AI. Nah, untuk pain (4), terbayangnya kalau mau rapi, kita akan buatkan tiap mahasiswa folder nama dan didalamnya keterangan waktu tiap pekannya untuk diisi. Alangkah dimudahkannya pekerjaan administrasi ini dilakukan oleh AI.
- Pengen kontak baru pada WhatsApp itu auto-save dengan standar penulisan yang diinginkan. Untuk memberikan konteks, aku kalau memberi nama itu “Nama panggilan_Nama panjang_Afiliasi/ kenal pertama pada momentum apa”. Jadi, selama ini kalau manual, memang menghabiskan waktu sekali!
- Pemberian tanda tangan lebih ringkas dan ada watermark/ sign pada tanda-tangan. Kebayang ada barcode di pojok kanan tanda tangan untuk menunjukkan keaslian dari ttd itu, keren banget!
Wah, membayangkan keempat pekerjaan ini suatu hari nanti bisa dibantu oleh AI rasanya menyenangkan sekali! Sejauh ini, memang Claude yang secara logika bisa dikejar, walaupun tetap perlu otak manusia untuk mengarahkannya ya!
Kemarin aku sempat (atau menyempatkan walaupun chaos dan ga se-perform itu juga) ikutan bootcamp Claude dari BelajarLagiHQ. Selepasnya, ada komunitas yang adminnya itu concern atau punya ketertarikan untuk membahas per-AI dan digital markeitng gitu.
Untuk optimasi WhatsApp, nampaknya bisa pakai ini: https://katawhatsapp.com/ , dimana kenalan admin (thanks Kak Phyar, Teaching Assistant ku yang ngenalin komunitas ituπ₯Ή) bikin WA Gateway yang bisa dipake pribadi/bot buat blasting pesan gratis. Sangat menarikkk!
Detailnya:
Paket Gratis:
- Starter β 1.000 pesan/hari, 1 device, akses API
- Business β 10.000 pesan/hari, 5 device
- Enterprise β custom (unlimited)
Cara kerja: standar kayak WA Gateway pada umumnya. Lo daftar, scan QR code pake WhatsApp lo (mirip WA Web), terus bisa kirim pesan via REST API. Contoh endpoint-nya:
curl -X POST https://api.katawhatsapp.com/sessions//send
-H “Authorization: Bearer YOUR_TOKEN”
-H “Content-Type: application/json”
-d ‘{“to”:”628xxxxxxxx”,”text”:”Halo!”}’
Kelebihan yang keliatan:
- Gratis beneran (gak cuma trial), kuota 1rb-10rb/hari cukup lumayan buat notifikasi atau blast skala kecil-sedang
- Udah include OTP, auto-reply, scheduled campaign
- Dashboard + real-time report
- Dokumentasi API jelas
Catatan penting:
- Tetep pake infrastruktur pihak ketiga β kirim pesan lewat server mereka, konek ke WhatsApp lo via koneksi mereka
- Masalah kayak kena spam/limit/banned dari WhatsApp tergantung pemakaian, kayak gateway lain juga
- Gratisan berarti produk masih mungkin berubah, jangka panjang belum jelas
Tapi buat yang butuh kirim notifikasi/OTM/blast tanpa keluar duit β worth to try lah. Lumayan daripada bayar bulanan. Walaupun, tetap ada beberapa yang diperhatikan akan peluang resiko:
- Koneksi WhatsApp lo di-host di server mereka β ini beda sama WA Web yang koneksinya di browser lo. Koneksi WA lo (session file) ada di server mereka. Secara teknis mereka bisa akses semua chat yg masuk/keluar dari nomor itu selama sesi aktif.
- Login cuma pake QR code β mirip WA Web. Ga ada 2FA tambahan dari sisi gateway. Begitu discan, device lo “nempel” di server mereka.
- Data melewati infrastruktur mereka β semua pesan (termasuk OTP, data pelanggan, dll.) lewat server mereka. Lo percaya mereka ga log?
- Gratisan = lo produknya β kalo ga bayar, lo harus curiga: mereka dapet duit dari mana? Bisa dari upsell, atau… ya data.
- No guarantee kalo mereka bobol β startup gratis begini biasanya ga punya sertifikasi keamanan (ISO 27001, SOC 2, dll.)
Nah, saran dari sesama member di grup komunitas itu menyikapi platform WA blast ini:
- Buat notifikasi internal / testing β mungkin oke, toh pesannya ga sensitif
- Buat OTP / transaksi pelanggan β gue personally ga akan percayain ke gateway gratis. Mending pake provider established kayak Twilio, Vonage, atau WATI yang berbayar tapi jelas reputasi dan compliance-nya
- Kalo lo emang butuh gateway sendiri, setup WACloud atau Baileys di server lo sendiri β kontrol penuh, ga numpang di server orang
- Intinya: gratis itu selalu ada kompromi. Kalo bisnis lo udah pegang data pelanggan, mending bayar dikit demi keamanan daripada repot gara-gara data bocor. Jadinya, dikembalikan ke tujuan dari penggunaan plaform WA blast ini sih.
Okey, baru platform WA blast ini aja yang menarik. Wah, jujur agak mindblowing sekaligus overwhelmed juga ya melihat konten ini jadi tipis-tipis tutorial wkwkwk. Tapi gapapa lah, itung-itung seperti catatan belajar juga ya.
Semoga Allah bantu dan kuatkan peran menjadi dosen ini!
Sampai jumpa konten #TDL selanjutnya~