Belajar Menjadi Peneliti Muslim: Tidak Sekadar Pandai Membantah

Ada sebuah gagasan sederhana yang menarik perhatian dari seorang penulis sekaligus peneliti yang selama ini banyak membahas persoalan sains dan teknologi. Orang dengan latar belakang sains, menurutnya (dalam status WhatsApp Juris Arrozy), biasanya terlatih untuk mempertanyakan argumen yang tidak masuk akal. Mereka terbiasa mencari bukti, memeriksa metode, mempertanyakan asumsi, dan menunjukkan ketika sebuah kesimpulan tidak mengikuti data. Kemampuan seperti ini tentu merupakan salah satu kekuatan utama tradisi ilmiah. Namun, ada sisi lain yang patut diperhatikan: seseorang bisa sangat terlatih menemukan kelemahan sebuah argumen, tetapi belum tentu terlatih untuk terlebih dahulu memahami bentuk terbaik dari argumen tersebut.

Masalahnya bukan karena sikap kritis itu keliru. Justru ilmu pengetahuan membutuhkan sikap kritis. Persoalannya muncul ketika kritik dilakukan sebelum pemahaman. Ketika menemukan sebuah gagasan yang terasa tidak masuk akal, respons yang paling mudah adalah mencari celah untuk membantahnya. Respons yang lebih sulit adalah bertanya mengapa gagasan tersebut bisa dianggap masuk akal oleh orang yang mengemukakannya. Apa persoalan yang sebenarnya ingin diselesaikan? Asumsi apa yang digunakan? Dalam kondisi seperti apa gagasan itu mungkin benar? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini tidak membuat seseorang menjadi kurang kritis. Sebaliknya, kritik yang lahir setelah pemahaman biasanya jauh lebih tajam daripada kritik yang muncul karena reaksi spontan.

Hal ini penting bagi seorang peneliti karena penelitian bukan hanya kegiatan untuk menemukan kesalahan penelitian sebelumnya. Penelitian juga merupakan usaha memahami apa yang telah diketahui, menemukan bagian yang belum terjelaskan, lalu memberikan penjelasan yang lebih baik. Karena itu, ketika membaca sebuah penelitian, pertanyaan “apa kelemahannya?” sebaiknya tidak selalu menjadi pertanyaan pertama. Ada pertanyaan yang lebih mendasar: “Apa sebenarnya yang berhasil dijelaskan oleh penelitian ini?” Setelah kekuatan suatu penelitian dipahami, barulah keterbatasannya dapat dinilai dengan lebih adil.

Cara berpikir tersebut menjadi semakin menarik ketika dibawa ke persoalan teknologi. Selama ini teknologi sering dipahami sebagai alat yang pada dirinya sendiri netral. Sebuah pisau dapat digunakan untuk memasak maupun melukai; sebuah komputer dapat digunakan untuk belajar maupun melakukan kejahatan. Dari sini muncul pandangan bahwa teknologi pada dasarnya tidak memiliki nilai dan bahwa persoalan moral hanya terletak pada manusia yang menggunakannya. Ungkapan “guns don’t kill people, people do” merupakan salah satu bentuk populer dari cara pandang tersebut. Juris Arrozy menunjukkan bahwa persoalan menjadi lebih rumit ketika teknologi tidak hanya dipahami sebagai benda, tetapi juga sebagai aktivitas, proses pemecahan masalah, dan disiplin pengetahuan yang melibatkan manusia sejak tahap perumusan masalah sampai penggunaannya (Arrozy, 2021).

Sebelum sebuah teknologi menjadi benda, sebenarnya sudah ada banyak keputusan yang dibuat manusia. Seseorang harus menentukan masalah apa yang dianggap penting, kebutuhan siapa yang perlu diselesaikan, kinerja seperti apa yang dianggap baik, biaya seperti apa yang dapat diterima, dan dampak apa yang dianggap layak ditanggung. Semua keputusan tersebut tidak lahir dari persamaan matematika atau hukum fisika semata. Di belakangnya terdapat cara pandang tertentu mengenai manusia, alam, kebutuhan, kemajuan, dan kehidupan. Karena itu, pertanyaan tentang teknologi tidak cukup berhenti pada “apakah teknologi ini bekerja?”, tetapi juga perlu bergerak kepada “untuk apa teknologi ini dikembangkan dan nilai apa yang hendak dicapai?” (Arrozy, 2021).

Di titik ini, konsep worldview menjadi penting. Bagi Açıkgenç, worldview merupakan salah satu dasar yang melandasi aktivitas manusia, termasuk kegiatan ilmiah dan teknologi. Artinya, kegiatan ilmiah tidak sepenuhnya berdiri sendiri, tetapi berlangsung dalam kerangka cara pandang tertentu tentang realitas dan pengetahuan (Açıkgenç, 1996, dalam Zarkasyi, 2016). Dalam tulisan Juris Arrozy, gagasan yang sama digunakan untuk menunjukkan bahwa worldview pembuat teknologi dapat memengaruhi masalah yang dipilih, nilai yang hendak diwujudkan, serta arah pengembangan teknologi (Arrozy, 2021).

Ini tidak berarti bahwa setiap teknologi yang dibuat oleh orang dengan worldview berbeda pasti menghasilkan bentuk benda yang berbeda. Dua peneliti dari latar belakang yang berbeda dapat saja menghasilkan panel surya, sistem pendingin, atau perangkat lunak yang secara fisik hampir sama. Kesamaan produk tidak otomatis menunjukkan bahwa teknologi tersebut bebas nilai. Bisa saja keduanya sampai pada solusi yang sama karena terdapat nilai yang sama-sama disepakati, sementara alasan yang mendasari pilihan tersebut berbeda. Dalam contoh yang diberikan Arrozy, kepedulian terhadap lingkungan dapat ditemukan baik dalam kerangka pembangunan berkelanjutan maupun dalam worldview Islam, tetapi dasar pemaknaannya tidak harus sama (Arrozy, 2021).

Pemikiran seperti ini sebenarnya sudah lama hadir dalam filsafat teknologi. Gagasan bahwa teknologi tidak sepenuhnya netral dapat dilihat dari pemikiran Martin Heidegger. Menurutnya, teknologi modern bukan hanya membantu manusia menggunakan alam, tetapi juga dapat memengaruhi cara manusia melihat alam. Sungai, misalnya, bisa saja tidak lagi dilihat hanya sebagai sungai, tetapi sebagai sumber energi yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik (Heidegger, 1977, dalam Arrozy, 2021). Langdon Winner melihat persoalan serupa dari sisi lain. Menurutnya, cara sebuah teknologi dirancang dapat membawa dampak sosial dan politik tertentu. Ia memberi contoh jalan dan jembatan di Long Island yang dirancang dengan ketinggian tertentu sehingga bus tidak dapat melewatinya. Akibatnya, orang yang bergantung pada bus menjadi lebih sulit mengakses kawasan tersebut (Winner, 1980, dalam Arrozy, 2021). Arrozy menggunakan kedua pemikiran tersebut untuk menunjukkan bahwa persoalan nilai dalam teknologi tidak selalu dapat direduksi menjadi niat baik atau buruk dari pengguna setelah teknologi selesai dibuat (Arrozy, 2021).

Jika demikian, posisi seorang Muslim sebagai peneliti dan inventor menjadi lebih menarik. Islam tidak harus hadir hanya pada tahap terakhir, ketika teknologi sudah selesai dibuat lalu diperiksa apakah penggunaannya halal atau haram. Pertanyaan yang lebih awal justru adalah: mengapa teknologi tersebut perlu dibuat sejak awal? Masalah apa yang dianggap penting? Kebutuhan siapa yang hendak dipenuhi? Apa yang disebut sebagai kemajuan? Apa yang dianggap sebagai manfaat? Pertanyaan-pertanyaan ini berada sebelum desain dan sebelum eksperimen, tetapi justru dapat menentukan arah desain dan eksperimen tersebut.

Mehdi Golshani juga melihat bahwa Islam dapat memberikan arah bagi perkembangan sains dan teknologi. Menurutnya, ilmu pengetahuan tidak harus dipertentangkan dengan agama. Kegiatan mempelajari alam justru dapat ditempatkan dalam pandangan yang lebih luas tentang manusia, alam, dan tujuan hidup (Golshani, 2016). Dengan cara pandang tersebut, seorang Muslim tidak perlu menjadi kurang ilmiah karena membawa worldview Islam ke dalam penelitian. Justru sebaliknya, ia dapat menjadi lebih sadar mengenai asumsi yang bekerja di balik aktivitas ilmiahnya. Ia tetap harus bertanya apakah data cukup, apakah metode tepat, apakah kesimpulan mengikuti bukti, dan apakah hasil dapat dipertanggungjawabkan. Namun, di samping itu, ia juga dapat bertanya mengapa penelitian tersebut penting dan ke mana hasil penelitian tersebut akan diarahkan. Dua jenis pertanyaan ini tidak harus saling bertentangan.

Karena itu, gagasan tentang ilmu dalam tradisi Islam tidak cukup dipahami sebagai upaya menambahkan ayat Al-Qur’an ke dalam penelitian yang sudah selesai. Hamid Fahmy Zarkasyi secara tegas mengingatkan bahwa memasukkan nilai Islam ke dalam sains dan teknologi bukan sekadar menempelkan istilah atau ayat agama pada teori dan teknologi modern. Yang lebih penting adalah bagaimana nilai tersebut memengaruhi cara ilmu dan teknologi dikembangkan serta tujuan yang hendak dicapai (Zarkasyi, 2017).

Pandangan ini membuat gagasan “teknologi Islam” menjadi lebih luas daripada sekadar mencari benda yang memiliki label Islam. Dalam artikel Arrozy, Islamic Technology dirumuskan sebagai disiplin yang membahas bagaimana worldview Islam menjadi dasar pengembangan dan evaluasi teknologi kontemporer. Karena itu, perhatian tidak hanya diberikan kepada benda yang dihasilkan, tetapi juga kepada sejarah, filsafat, proses pengembangan, dan cara teknologi tersebut digunakan (Arrozy, 2021).

Dengan pengertian tersebut, sebuah teknologi tidak menjadi Islami hanya karena dibuat oleh seorang Muslim. Sebaliknya, sebuah teknologi yang dibuat oleh orang non-Muslim tidak otomatis harus ditolak. Arrozy menawarkan tiga kemungkinan sikap pengguna Muslim terhadap teknologi: mengadopsinya apabila sesuai dengan nilai yang diyakini, mengadaptasinya apabila masih dapat diperbaiki agar lebih sesuai dengan nilai tersebut, atau mengeliminasinya apabila bertentangan secara mendasar dan tidak dapat diperbaiki (Arrozy, 2021).

Cara pandang ini terasa penting dalam dunia penelitian saat ini. Peneliti Muslim tidak harus memulai dengan anggapan bahwa semua pengetahuan dari luar tradisi Islam harus ditolak. Sebaliknya, pengetahuan yang telah berkembang dapat dipelajari dengan serius, diuji, digunakan, dan dikembangkan lebih lanjut. Pada saat yang sama, tidak semua tujuan penelitian yang populer harus diterima begitu saja. Yang perlu dipertanyakan bukan hanya apakah sebuah metode berhasil, tetapi juga apakah masalah yang hendak diselesaikan memang merupakan masalah yang penting.

Di sinilah gagasan Adi Setia mengenai Islamic science menjadi menarik. Ia bergerak lebih jauh, tidak hanya sekadar mempelajari sejarah atau filsafat sains dalam peradaban Islam menuju sesuatu yang benar-benar dikerjakan dalam penelitian. Baginya, nilai-nilai Islam perlu ikut membentuk cara ilmuwan menentukan persoalan, membangun teori, melakukan penelitian, dan mencari solusi atas masalah nyata. Dengan demikian, sains Islam bukan sekadar memberi label “Islam” pada ilmu yang sudah ada, tetapi menjadi upaya untuk menghasilkan pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan nilai Islam serta bermanfaat bagi kebutuhan masyarakat (Setia, 2007).

Pertanyaan yang kemudian muncul menjadi sangat praktis: penelitian apa yang akan dilakukan jika seorang peneliti benar-benar menjadikan worldview Islam sebagai bagian dari cara berpikirnya? Jawabannya tidak harus berupa penelitian yang secara langsung membahas agama. Seorang ahli bangunan dapat meneliti efisiensi energi karena melihat penghematan sumber daya sebagai bagian dari tanggung jawab manusia terhadap alam. Seorang ahli kesehatan dapat mengembangkan teknologi yang meningkatkan akses pelayanan bagi kelompok yang selama ini sulit terjangkau. Seorang engineer dapat memilih mengembangkan teknologi yang lebih hemat sumber daya meskipun teknologi tersebut tidak selalu menghasilkan keuntungan ekonomi paling besar. Yang membuatnya relevan dengan worldview Islam bukan nama produknya, tetapi alasan dan nilai yang mengarahkan pengembangannya.

Dalam kerangka maqāṣid al-sharī‘ah, pertimbangan tersebut bahkan dapat dibuat lebih konkret. Perlindungan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta dapat menjadi salah satu kerangka untuk menilai prioritas pengembangan teknologi dan dampaknya terhadap kehidupan manusia (Auda, 2008). Arrozy menggunakan maqāṣid untuk menunjukkan bahwa pengembangan teknologi tidak harus hanya mengikuti motif ekonomi atau ukuran manfaat yang dibiarkan tanpa dasar nilai (Arrozy, 2021).

Tentu saja, menjadikan Islam sebagai orientasi penelitian tidak berarti bahwa setiap keputusan teknis dapat dijawab langsung oleh teks agama. Seorang engineer tetap membutuhkan termodinamika, matematika, eksperimen, simulasi, data, dan pengalaman teknis. Seorang arsitek tetap membutuhkan pengetahuan tentang struktur, material, iklim, dan perilaku manusia. Seorang peneliti kesehatan tetap membutuhkan statistik, biologi, epidemiologi, dan uji klinis. Worldview tidak menggantikan metode ilmiah. Worldview memberikan arah terhadap pertanyaan yang diajukan dan tujuan yang ingin dicapai, sementara metode ilmiah membantu memastikan bahwa jawaban terhadap pertanyaan tersebut dapat dipertanggungjawabkan.

Karena itu, peneliti Muslim seharusnya tidak merasa perlu memilih antara menjadi “ilmiah” atau “Islami”. Yang perlu dihindari justru adalah dua ekstrem: pertama, menganggap agama tidak memiliki tempat sama sekali dalam menentukan arah ilmu; kedua, menggunakan agama untuk menggantikan proses pembuktian ilmiah. Islam dapat memberikan orientasi terhadap tujuan dan nilai, sementara penelitian tetap harus tunduk pada tuntutan ketelitian, bukti, dan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan (Golshani, 2016; Setia, 2007).

Pada akhirnya, pelajaran dari gagasan tentang “mencari versi terbaik dari sebuah argumen” juga menjadi relevan bagi cara seorang Muslim membaca ilmu pengetahuan. Ia tidak perlu buru-buru menolak gagasan hanya karena berasal dari luar tradisinya. Ia juga tidak perlu menerimanya hanya karena berasal dari jurnal bereputasi. Sikap yang lebih matang adalah memahami terlebih dahulu, menguji dengan serius, mengambil bagian yang benar, menunjukkan bagian yang keliru, lalu membangun sesuatu yang lebih baik. Sikap kritis dan keterbukaan tidak harus berlawanan dengan keyakinan; keduanya justru dapat berjalan bersama ketika kebenaran ditempatkan lebih tinggi daripada keinginan untuk sekadar memenangkan perdebatan.

Dengan demikian, menjadi peneliti Muslim bukan sekadar persoalan identitas. Identitas Muslim baru memiliki konsekuensi intelektual ketika ia memengaruhi cara seorang peneliti menentukan masalah, memahami manusia dan alam, menetapkan tujuan, menilai manfaat, serta memikirkan dampak dari teknologi yang dikembangkan. Pada tahap ini, Islam tidak hadir sebagai hiasan setelah penelitian selesai, tetapi menjadi salah satu dasar yang membantu menentukan mengapa penelitian tersebut layak dilakukan.

Mungkin karena itu, pertanyaan penting bagi peneliti Muslim bukan hanya “apa yang belum diteliti?”, tetapi juga “apa yang seharusnya diteliti?”. Bukan hanya “apa yang dapat dibuat?”, tetapi juga “apa yang layak dibuat?”. Bukan hanya “apakah teknologi ini bekerja?”, tetapi juga “untuk tujuan apa teknologi ini bekerja?”. Dan sebelum sibuk menemukan kesalahan dalam pengetahuan orang lain, ada satu kebiasaan intelektual yang patut dipelihara: berusaha memahami terlebih dahulu mengapa sebuah gagasan dapat dianggap benar, lalu mengujinya dengan sebaik-baiknya.

Di situlah penelitian dapat menjadi lebih dari sekadar pekerjaan akademik. Ia menjadi bagian dari tanggung jawab seorang Muslim dalam menggunakan akal, memahami ciptaan, dan menghasilkan sesuatu yang benar-benar membawa kemaslahatan.

Ucapan terimakasih
Berangkat dari status WhatsApp Juris Arrozy atau aku mengenalnya Kang Juris, kawan dari sesama alumni Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Bandung. Dari satu status, menjadi satu refleksi, hingga akhirnya ditulis untuk dapat diekskusi dan kristalisasi secara serius. Semoga menjadi langkah untuk membumikan Islamisasi Sains.

Referensi

Setia, A. (2007). Three meanings of Islamic science: toward operationalizing Islamization of science. Journal of Islam and Science, 5(1), 23-52.

Arrozy, J. (2020). Menyoal Argumen Kebebasnilaian Teknologi dan Merumuskan Disiplin Ilmu Teknologi Islam. Kalimah: Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam, 19(1). https://doi.org/10.21111/KLM.V19I1.6356 . https://jurisarrozy.substack.com/p/menyoal-argumen-kebebasnilaian-teknologi?utm_source=share&utm_medium=android&r=46sjha .

Golshani, M. (2016, April). Islam can give a proper orientation to science and technology development. In Islamic Perspectives on Science and Technology: Selected Conference Papers (pp. 119-130). Singapore: Springer Singapore.

Zarkasy, H. F. (2016). Inculcation of Values Into Technology An Islamic Perspective. Afro Eurasian Studies, 5(1-2), 90-118.

#TDL: Patform pangkas administrasi kerja dosen

Setidaknya terhitung Juni 2026 kemarin sudah masuk setahun “magang” jadi dosen tetap. Kerjaan memang banyak, ya setidaknya melihat kolega sekitar, udah ga usah ditanya. Menariknya, padahal segitu belum diberi beban kerja full sebagaimana karyawan penuh, itu aja rasanya udah capek banget wkwkwk.

Bukan hal baru, dan memang benar adanya dan sangat worth-to-solved kalau bisa pangkas administrasi. Kita ga bahas administrasi formal (aja), bahkan, dari sisi “coaching” dan “fasilitator” mendampingi mahasiswa aja udah takes time banget. Dimulai dari: review partisipasi pembelajaran (apalagi kalau menjadi ukuran penilaian sumatif atau nilai akhir perkuliahan), reminder atau buka kesepakatan janji temu, dokumentasi pembelajaran itu sendiri yang nantinya, idealnya, jadi dasar perbaikan pada pembelajaran berikutnya.

Membayangkan menjalani tahun kedua dengan “senjata” tempur yang sama, rasa-rasanya seperti tidak memetik hikmah sama sekali ya. Jadi, kenapa tidak kita buat #TDL adalah kepanjangan dari “hastag-to-do-list” yang menuangkan ide masalah untuk didokumentasikan secara runut, setidaknya teratur dari perspektif gue, jadi kualitas sistematisnya tentu sangat bergantung pada kualitas load pikiran dan kemampuan otot mental yang ku miliki saat ini😎. Setidak-tidaknya, ketika membaca kembali postingan ini, jadi keinget bahwa otak ini pernah sedemikian seriusnya untuk mencoba mengurai masalah. Syukur-syukur Allah beri kesempatan menyelesaikannya, atau senggaknya, kita jadikan data pasar aja ga sih? Kali aja ada yang menyambut(?) #asik. Kalau betul ada yang bisa bantu, kredit “terimakasih” mungkin bukan rezeki kita, tapi Alhamdulillah satu masalah sudah solved dan kita bisa “cari masalah” lainnya #eaaa

Kalau mau lempar “kesalahan”, yaa paling enak kasih komplain pada pemilik instansi yang membebankan tugas. Setidaknya akan keluar kalimat,

“Kenapa sih kalian ga buat barengan aja laman platformnya, jadi gausah buat banyak dan jadi berkali-kali kerjanya?”

yang sebenernya, kalau kita coba renungkan lagi dengan kacamata mindset ‘yang penting beres dulu aja’, maka betul lebih do-able dan manageable memfokuskan satu platform untuk satu task terpisah. Well, lebih baik ada daripada tidak sama sekali, bukan?

Tentunya, postingan ini bukan membenarkan cara pikir itu pada konteks pelaporan ini ya. Tapi, pertanyaan menariknya:

“Apakah memang solusi hanya bisa hadir dari pemangku kebijakan atau penyelenggara/ pihak berwewenang?”

Ternyata engga gaes, contoh nyata: mengenang bagaimana gue bisa masuk kerja Juni 2025. Untuk konteks, aku ditetapkan mengisi formasi dosen tetap CPNS sekitar akhir Januari 2025. Hingga lebaran selesai, berarti setelah bulan Maret, pun masih simpang-siur kapan masuk hingga keluar pernyataan pada bulan Mei 2025 bahwa penerima kerja akan mulai kerja tahun 2026, yang masih belum jelas juga detailnya. Lalu, penolakan dan desakan masyarakat, notabene-nya bukan pihak berwenang dan pemangku kebijakan, bisa mendorong keputusan penerima pegawai yang lulus tes CPNS 2024 akan mulai kerja pada Bulan Juni 2025. Tidak perlu membahas betapa chaos-nya saat itu, tapi ternyata solusi bisa hadir dari berbagai pihak kan?

Kembali pada permasalahan beban administrasi yang berat dan banyak, kita bisa lakukan:

  1. Optimasi pengisian administrasi pada laman sister (dibaca: sistem integrasi; laman pelaporan kerja dosen) langsung dengan AI. Setidaknya proven bisa dibantu dengan claude cowork. Pernah liat konten orang yang dengan prompt tertentu bisa mengerjakan pengisian sister (sayang lupa liat kontennya dimana, itu keren sih! Kalau ketemu nanti aku share deh disini). Hanya saja, token yang dipakai sangat besar banget, yang ujung-ujungnya butuh langganan subscribe yang besar. Tapi setidaknya, ternyata do-able untuk dibantu
  2. Platform untuk tracking capaian tugas akhir mahasiswa. Untuk skema tugas akhir dan magang dan punya keluaran berkas laporan, akan punya aktivitas yang sama: bimbingan rutin, mahasiswa yang dituntut untuk terus berprogres dan waktu ke waktu, dokumentasi berkas yang rapi untuk dikembangkan kembali untuk dosen atau adik tingkat selanjutnya yang akan ambil topik yang sama/ butuh contoh gambaran riset. Pain dari sisi dosen: (1) review konten dan kesesuaian format, (2) feedback personal satu-per-satu mahasiswa, (3) janjian untuk temu: WhatsApp perlu fast respon dan kesesuaian waktu, dan (4) pendokumentasian seluruh berkas yang sudah dibuat oleh mahasiwa. Nah, kenapa tidak pain (1) dan (2) ditakis langsung dengan bantuan AI, dengan input yang tepat, rasanya sangat memungkinkan ya. Untuk pain (2) sebetulnya membayangkan mahasiwa sambil menunggu feedback langsung dari dosen, bisa dapat feedback dari AI (dengan input yang sudah disetting dosen) sehingga jeda tunggu selama dosen membaca berkas bisa digunakan untuk menaggapi “usulan perbaikan” dari AI. Feedback itu akan terekam pada platform, juga terkirim otomatis ke WhatsApp juga. Tinggal pain (3) yang tetap perlu update dari dosen memberikan usulan waktu, nantinya untuk pengisian mahsiswa mengisi waktu usulan yang diatur oleh AI. Nah, untuk pain (4), terbayangnya kalau mau rapi, kita akan buatkan tiap mahasiswa folder nama dan didalamnya keterangan waktu tiap pekannya untuk diisi. Alangkah dimudahkannya pekerjaan administrasi ini dilakukan oleh AI.
  3. Pengen kontak baru pada WhatsApp itu auto-save dengan standar penulisan yang diinginkan. Untuk memberikan konteks, aku kalau memberi nama itu “Nama panggilan_Nama panjang_Afiliasi/ kenal pertama pada momentum apa”. Jadi, selama ini kalau manual, memang menghabiskan waktu sekali!
  4. Pemberian tanda tangan lebih ringkas dan ada watermark/ sign pada tanda-tangan. Kebayang ada barcode di pojok kanan tanda tangan untuk menunjukkan keaslian dari ttd itu, keren banget!

Wah, membayangkan keempat pekerjaan ini suatu hari nanti bisa dibantu oleh AI rasanya menyenangkan sekali! Sejauh ini, memang Claude yang secara logika bisa dikejar, walaupun tetap perlu otak manusia untuk mengarahkannya ya!

Kemarin aku sempat (atau menyempatkan walaupun chaos dan ga se-perform itu juga) ikutan bootcamp Claude dari BelajarLagiHQ. Selepasnya, ada komunitas yang adminnya itu concern atau punya ketertarikan untuk membahas per-AI dan digital markeitng gitu.

Untuk optimasi WhatsApp, nampaknya bisa pakai ini: https://katawhatsapp.com/ , dimana kenalan admin (thanks Kak Phyar, Teaching Assistant ku yang ngenalin komunitas itu🥹) bikin WA Gateway yang bisa dipake pribadi/bot buat blasting pesan gratis. Sangat menarikkk!

Detailnya:

Paket Gratis:

  • Starter — 1.000 pesan/hari, 1 device, akses API
  • Business — 10.000 pesan/hari, 5 device
  • Enterprise — custom (unlimited)

Cara kerja: standar kayak WA Gateway pada umumnya. Lo daftar, scan QR code pake WhatsApp lo (mirip WA Web), terus bisa kirim pesan via REST API. Contoh endpoint-nya:

curl -X POST https://api.katawhatsapp.com/sessions//send
-H “Authorization: Bearer YOUR_TOKEN”
-H “Content-Type: application/json”
-d ‘{“to”:”628xxxxxxxx”,”text”:”Halo!”}’

Kelebihan yang keliatan:

  • Gratis beneran (gak cuma trial), kuota 1rb-10rb/hari cukup lumayan buat notifikasi atau blast skala kecil-sedang
  • Udah include OTP, auto-reply, scheduled campaign
  • Dashboard + real-time report
  • Dokumentasi API jelas

Catatan penting:

  • Tetep pake infrastruktur pihak ketiga — kirim pesan lewat server mereka, konek ke WhatsApp lo via koneksi mereka
  • Masalah kayak kena spam/limit/banned dari WhatsApp tergantung pemakaian, kayak gateway lain juga
  • Gratisan berarti produk masih mungkin berubah, jangka panjang belum jelas

Tapi buat yang butuh kirim notifikasi/OTM/blast tanpa keluar duit — worth to try lah. Lumayan daripada bayar bulanan. Walaupun, tetap ada beberapa yang diperhatikan akan peluang resiko:

  1. Koneksi WhatsApp lo di-host di server mereka — ini beda sama WA Web yang koneksinya di browser lo. Koneksi WA lo (session file) ada di server mereka. Secara teknis mereka bisa akses semua chat yg masuk/keluar dari nomor itu selama sesi aktif.
  2. Login cuma pake QR code — mirip WA Web. Ga ada 2FA tambahan dari sisi gateway. Begitu discan, device lo “nempel” di server mereka.
  3. Data melewati infrastruktur mereka — semua pesan (termasuk OTP, data pelanggan, dll.) lewat server mereka. Lo percaya mereka ga log?
  4. Gratisan = lo produknya — kalo ga bayar, lo harus curiga: mereka dapet duit dari mana? Bisa dari upsell, atau… ya data.
  5. No guarantee kalo mereka bobol — startup gratis begini biasanya ga punya sertifikasi keamanan (ISO 27001, SOC 2, dll.)

Nah, saran dari sesama member di grup komunitas itu menyikapi platform WA blast ini:

  • Buat notifikasi internal / testing — mungkin oke, toh pesannya ga sensitif
  • Buat OTP / transaksi pelanggan — gue personally ga akan percayain ke gateway gratis. Mending pake provider established kayak Twilio, Vonage, atau WATI yang berbayar tapi jelas reputasi dan compliance-nya
  • Kalo lo emang butuh gateway sendiri, setup WACloud atau Baileys di server lo sendiri — kontrol penuh, ga numpang di server orang
  • Intinya: gratis itu selalu ada kompromi. Kalo bisnis lo udah pegang data pelanggan, mending bayar dikit demi keamanan daripada repot gara-gara data bocor. Jadinya, dikembalikan ke tujuan dari penggunaan plaform WA blast ini sih.

Okey, baru platform WA blast ini aja yang menarik. Wah, jujur agak mindblowing sekaligus overwhelmed juga ya melihat konten ini jadi tipis-tipis tutorial wkwkwk. Tapi gapapa lah, itung-itung seperti catatan belajar juga ya.

Semoga Allah bantu dan kuatkan peran menjadi dosen ini!

Sampai jumpa konten #TDL selanjutnya~